Ternyata Ini Pengertian & Cara Kerja Tanaman Hidroponik, Simpel Banget!
Banyak orang percaya solusi terbaik menanam di lahan sempit adalah dengan hidroponik. Tapi apa sebenarnya pengertian hidroponik dan cara kerjanya?
Sayangnya, tidak banyak orang yang mempelajari hidroponik dengan tepat, sehingga cenderung gagal dan berhenti di tengah jalan.
Bagi Anda yang ingin mencoba hidroponik, sebaiknya kenali dulu jenis-jenisnya, keunggulan, cara kerja dan langkah awal untuk memulainya di sini.
Mengenal Jenis Jenis Hidroponik
Anda mungkin hanya mengenal hidroponik adalah cara menanam menggunakan air atau tanpa tanah. Medianya adalah air sedangkan pot digantikan dengan pipa untuk mengalirkan air.
Namun, hidroponik bukan sekedar menanam dengan air, tapi banyak jenisnya yang bisa dipelajari, seperti:

1. Sistem Sumbu
Dikenal juga sebagai sistem sumbu dan termasuk yang paling simpel. Nutrisi pada wadah yang mengalirkan air akan ditarik akar tanaman lewat sumbu seperti tali atau kain yang sifatnya kapiler.
Jenis yang pertama ini tidak membutuhkan listrik maupun pompa, sehingga cocok bagi Anda yang masih pemula.
2. Sistem Rakit Apung
Jenis hidroponik yang metodenya dengan meletakkan di atas rakit atau wadah yang mengapung di permukaan larutan nutrisi.
Akar tanaman terendam langsung di dalam larutan sehingga penyerapan zat gizi berlangsung optimal. Biasanya aerator ditambahkan untuk menjaga suplai oksigen.
3. Nutrient Film Technique
Merupakan jenis hidroponik NFT yang menggunakan aliran tipis larutan nutrisi yang terus bergerak melewati akar tanaman.
Akar akan menyerap nutrisi sekaligus mendapat cukup oksigen karena larutan yang mengalir hanya berupa lapisan tipis.
4. Deep Flow Technique
Hampir mirip dengan NFT, hanya saja lapisan larutan nutrisi lebih tebal sehingga sebagian akar tetap terendam.
Dengan demikian, tanaman tetap mendapat cadangan nutrisi meskipun alirannya terhenti sesaat.
5. Sistem Irigasi Tetes
Sesuai dengan namanya, sistem ini menyalurkan larutan nutrisi melalui tetesan yang langsung menuju akar tanaman.
Debit tetesan dapat diatur sesuai kebutuhan. Ada dua tipe, yaitu sistem resirkulasi (larutan kembali ke tangki) dan non resirkulasi (larutan habis terserap).

6. EBB dan Flow
Hidroponik pasang surut yaitu metode dengan memompa larutan nutrisi hingga menggenangi akar pada waktu tertentu, lalu dikembalikan ke tangki penampung.
Siklus pasang surut ini membuat akar memperoleh nutrisi sekaligus udara segar secara bergantian.
7. Aeroponik
Aeroponik termasuk teknik paling modern. Tanaman ditopang tanpa media padat, sementara akar digantung di udara.
Nutrisi diberikan dalam bentuk kabut atau semprotan halus. Metode ini memungkinkan tanaman tumbuh lebih cepat karena suplai oksigen yang melimpah.
8. Sistem Vertikal
Sistem ini dirancang untuk memaksimalkan ruang, terutama di lahan sempit. Tanaman ditata secara bertingkat dalam pipa atau tower, sementara nutrisi dialirkan dari atas ke bawah.
Sangat cocok digunakan untuk perkotaan atau rumah dengan lahan terbatas.

Keunggulan Hidroponik untuk Kualitas Tanaman
Tidak salah jika banyak orang dengan lahan sempit memilih hidroponik, karena itu salah satu keunggulannya. Namun, bukan hanya itu saja keunggulannya:
1. Tanaman Tumbuh Lebih Cepat
Karena nutrisi tanaman diberikan secara langsung melalui larutan dan akar, tanaman tidak perlu berjuang mencari unsur hara di tanah.
Selain itu, distribusi nutrisi yang merata memungkinkan pertumbuhan antar tanaman menjadi lebih seragam dari segi ukuran dan fase perkembangannya.
2. Kualitas Hasil Panen Terjaga
Tanaman hidroponik sering menghasilkan produk yang lebih bersih karena akar tidak kontak langsung dengan tanah yang bisa membawa patogen atau kontaminan.
Hasilnya, daun sayuran atau bagian tanaman lain jadi terlihat lebih menarik, bebas tanah atau partikel luar yang bisa mengurangi tampilannya.
3. Pengendalian Nutrisi yang Lebih Tepat dan Efisien
Dalam hidroponik, petani dapat mengatur kadar nutrisi, pH, dan oksigen larutan dengan lebih terkontrol.
Penyediaan nutrisi yang stabil berdampak langsung ke kualitas warna, rasa, tekstur, serta kandungan gizi tanaman yang lebih mudah dipertahankan.

Cara Kerja Teknik Hidroponik
Meskipun memiliki banyak jenis, tapi teknik kerja hidroponik rata-rata sama. Berikut ini cara kerjanya yang bisa jadi perhatian Anda:
1. Media Tanam Alternatif atau Tanpa Tanah
Daripada menggunakan tanah, hidroponik memakai media air atau media inert (pasir, kerikil, batu apung, dll) yang hanya berfungsi sebagai penahan akar dan menyediakan kestabilan fisik.
Unsur hara tidak berasal dari tanah itu sendiri, melainkan dari larutan nutrisi yang ditambahkan ke dalam media air.
2. Larutan Nutrisi dan Unsur Hara yang Dikontrol
Nutrisi esensial untuk pertumbuhan tanaman (seperti nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, dll) dilarutkan ke dalam air.
Komposisi unsur hara ini diatur sesuai kebutuhan jenis tanaman dan fase pertumbuhannya. Kondisi larutan harus dijaga agar tetap optimal.
3. Penyediaan Air dan Sirkulasi
Air yang mengandung nutrisi harus dialirkan ke akar tanaman secara teratur.
Ada beberapa sistem yang mengatur bagaimana larutan ini mengalir atau bersirkulasi, seperti sistem tetes, NFT, pasang surut, atau sistem apung.
4. Pemberian Oksigen ke Akar
Karena akar tidak berada dalam tanah yang mengandung udara dan mikroorganisme, maka perlu memastikan suplai oksigennya.
Caranya bisa melalui aerator atau pompa udara, aliran larutan yang tipis, atau dengan interval bebas larutan agar akar tetap bisa bernapas.

Perbedaan Hidroponik dan Konvensional
Penanaman hidroponik dengan sistem konvensional jelas berbeda. Dari media tanam sampai dengan proses pemberian nutrisi dan penggunaan air.
1. Media Tanam
Hidroponik tidak menggunakan tanah, media yang digunakan adalah cocopeat, sistem rakit, atau rockwool, bahkan tanpa media sama sekali.
Akar mendapatkan dukungan fisik dari media atau rakit, bukan dari tanah yang kaya bahan organik.
Sedangkan media tanam konvensional adalah tanah yang menjadi sumber nutrisi, habitat mikroorganisme yang mendukung siklus hara.
2. Pemberian Nutrisi dan Kontrol
Nutrisi dalam hidroponik disediakan dalam bentuk larutan dengan komposisi dan pH yang dapat dikontrol secara akurat.
Pada cara menanam konvensional bergantung pada ketersediaan di tanah, dekomposisi bahan organik, dan efisien pupuk yang diberikan.
3. Penggunaan Air
Hidroponik umumnya lebih efisien, sistem tertutup mengurangi kehilangan air melalui penguapan dibandingkan lahan terbuka.
Sistem tanam konvensional kehilangan air lebih besar. Efisiensi sangat tergantung pada praktek irigasi dan kondisi tanah.
4. Produktivitas dan Waktu Panen
Umumnya hidroponik memberikan pertumbuhan lebih cepat dan potensi hasil lebih tinggi per luasan karena nutrisi tersedia optimal dan kondisi terkontrol.
Sistem konvensional hasilnya bervariasi menurut kualitas tanah,iklim, dan praktik budidaya. Dalam kondisi ideal bisa sangat produktif, tapi umumnya lebih variatif daripada hidroponik.

Langkah Awal Memulai Hidroponik bagi Pemula
Sebagai pemula, Anda tidak perlu memilih jenis hidroponik yang sistemnya rumit. Cukup jenis sederhana seperti sistem sumbu atau rakit apung sudah cukup.
Namun, meskipun jenisnya sederhana, banyak langkah awal yang harus diperhatikan seperti:
1. Persiapan Alat dan Bahan Menanam Hidroponik
Alat dan bahan yang diperlukan antara lain wadah penanam (bak, ember, pipa), media tanam (rockwool, cocopeat, arang, sekam), bibit/ benih tanaman yang cocok.
Siapkan juga larutan nutrisi hidroponik, alat mengukur pH dan EC, dan perlengkapan tambahan seperti pompa sesuai jenis hidroponik yang dipilih.
2. Siapkan Media Tanam Hidroponik dan Benihnya
Anda hanya perlu menanam benih pada media tanam yang bersih dalam wadah yang telah disiapkan.
Supaya hasilnya lebih cepat, Anda bisa memilih benih yang mudah dipelihara seperti selada, kangkung, atau sayuran daun lainnya.
3. Membuat dan Mengatur Larutan Nutrisi
Anda perlu membuat larutan yang seimbang, larut dengan baik, dan idealnya pH antara kurang lebih 5,5 hingga 6,5.
Ukur EC untuk memastikan konsentrasi nutrisi bisa sesuai dengan kebutuhan tanaman.

4. Menyiapkan Lokasi Menanam dan Pencahayaan
Pilihlah lokasi yang mendapatkan cahaya matahari cukup jika menanamnya di luar ruangan.
Minimal tanaman mendapatkan cahaya matahari 6-8 jam per hari untuk tanaman sayuran daun.
5. Monitoring Pertumbuhan dan Perubahan
Penting untuk mengamati pertumbuhan tanaman dengan rutin. Jika tanaman tampak merah pada daun, pucuk kurang subur, pertimbangkan perubahan larutan nutrisinya.
Kondisi cahaya dan suhu juga bisa jadi pengaruhnya. Jika media terlalu lembab atau akar terlalu panjang, Anda bisa melakukan perawatan agar oksigen tetap masuk.
Jika monitoring berhasil, maka Anda hanya perlu menunggu waktu panen saja.
F.A.Q
Apa kelebihan dan kekurangan hidroponik?
Kelebihannya adalah efisiensi penggunaan lahan dan air, pertumbuhan lebih cepat, bebas gulma, dan hasil panen yang tinggi. Hanya saja, biaya untuk memulai juga tinggi dan perlu pengetahuan khusus.
Apa saja 6 persyaratan untuk hidroponik?
Syaratnya adalah udara, air, cahaya, nutrisi, panas, dan ruang.
Jenis pupuk apa yang digunakan dalam hidroponik?
Pupuk AB mix, pupuk NPK, pupuk gandasil, pupuk organik cair.



