Wajib Tahu! Cara Menghitung Biaya Renovasi Rumah 2 Lantai yang Akurat
Renovasi rumah sering terdengar sederhana, tapi cara menghitung biaya renovasi rumah yang salah akan membuat anggaran Anda membengkak.
Apalagi di tahun 2025 ini tantangannya semakin besar. Harga material dan upah tenaga kerja terus mengalami peningkatan.
Itu sebabnya, dengan memperhitungkan anggaran secara tepat sejak awal, Anda bisa menghindari pembengkakan biaya hingga keterlambatan pengerjaan.
Supaya biaya tidak membengkak dan renovasi lancar, Anda bisa cek dulu cara menghitung biayanya secara akurat di bawah ini.
Langkah Menghitung Biaya Renovasi Rumah jadi 2 Lantai
Kebanyakan orang lebih memilih renovasi rumah karena ingin menambah kamar karena ada anggota keluarga baru atau ingin terasa besar.
Cara tepat untuk merenovasi adalah dengan membuatnya menjadi 2 lantai, khususnya jika rumah berada di lahan sempit seperti perumahan.
Untuk menghitung biayanya, berikut ini beberapa langkah sederhana yang bisa Anda ikuti:
1. Mengukur Total Luas Bangunan yang akan Direnovasi
Langkah pertama adalah dengan mengetahui berapa luas total bangunan yang akan direnovasi. Luas ini adalah bangunan 2 lantai yang sudah jadi.
Anda bisa menghitungnya sendiri sesuai desain yang diinginkan atau meminta jasa untuk mengukurnya secara langsung.
Luas ini penting untuk dihitung karena akan menjadi dasar utama mengetahui biaya bangun per meter persegi.
Misalnya, untuk lantai 1 Anda membutuhkan luas 40m2 saja, sedangkan lantai 2 adalah 60 m2, sehingga total luasnya menjadi 100 m2.
2. Menentukan Jenis Renovasi, Berat, Sedang, atau Ringan
Jika ingin menambahkan lantai, renovasi biasanya termasuk dalam kategori berat, karena akan melibatkan penguatan struktur yang artinya membongkar lantai 1.
Selain itu, Anda juga harus membongkar atap, menambah dak beton, serta instalasi ulang sistem listrik dan air.
Renovasi berat artinya biaya lebih tinggi dan waktu pengerjaan bisa menjadi lama.

3. Memilih Skema Pengerjaan Renovasi
Setelah tahu luas area dan jenis renovasi, langkah selanjutnya adalah memilih metode pengerjaan yang sesuai.
Ada tiga jenis pengerjaan yang bisa Anda pilih, yaitu sistem harian yang cocok untuk renovasi ringan tapi kurang ideal untuk penambahan lantai.
Kedua adalah sistem borongan jasa yang mencakup upah tukang, dan ketiga borongan penuh yang mencakup material dan tenaga kerja sekaligus.
Untuk proyek rumah 2 lantai, borongan penuh lebih disarankan karena akan efisien dalam hal waktu, kualitas, dan pengendalian biaya.
4. Menghitung Estimasi Biaya per Meter Persegi
Anda sudah mengetahui total luas bangunan, dari hasil tersebut tinggal mengalikan saja dengan biaya renovasi per meter persegi sesuai penawaran jasa renovasi.
Untuk renovasi berat seperti menambah lantai, kisaran harga bisa mulai dari Rp3 juta hingga Rp5 juta per m2, bahkan bisa lebih jika desainnya kompleks.
Apabila Anda memiliki total bangunan yang akan direnovasi 100 m2, dengan penawaran harga Rp4 juta per m2, maka estimasi awal adalah Rp400 juta.
Jumlah ini hanya mencakup pengerjaan standar, belum termasuk struktur tambahan atau izin.
5. Menambahkan Biaya Struktur Tambahan
Penambahan lantai memerlukan penguatan struktur, termasuk pondasi, kolom, balok, dan dak beton.
Jika rumah lama belum dirancang untuk 2 lantai, maka struktur bawah harus diperkuat agar mampu menopang beban tambahan.
Biaya struktur tambahan ini bisa mencapai 10% hingga 30% dari total anggaran renovasi.
Dalam beberapa kasus, bahkan dibutuhkan pengecoran ulang sebagian bangunan, yang tentu menambah pengeluaran secara signifikan.

6. Menghitung Biaya Izin dan Konsultasi Profesional
Renovasi rumah 2 lantai biasanya memerlukan IMB atau saat ini dikenal sebagai PBG (Persetujuan Bangunan Gedung).
Mengurus perizinan ini tentu memerlukan biaya, termasuk untuk jasa arsitek atau insinyur struktur yang diperlukan untuk memastikan keamanan bangunan.
Biaya konsultasi profesional dan pengurusan izin bisa mencapai 5-10% dari total proyek.
Walaupun terdengar mahal, langkah ini penting agar renovasi tidak melanggar aturan hukum dan aman secara teknis.
7. Menyiapkan Dana Cadangan
Dalam setiap proyek renovasi, selalu ada kemungkinan biaya membengkak akibat perubahan desain, kenaikan harga material, atau kondisi bangunan lama yang tidak terduga.
Oleh karena itu, sangat disarankan untuk menyiapkan dana cadangan sekitar 10% hingga 155 dari total anggaran.
Dana ini berfungsi sebagai penyangga agar proyek tidak terhenti di tengah jalan karena kekurangan biaya dan juga membantu fleksibilitas selama proses renovasi berlangsung.
8. Menyusun Rencana Anggaran Biaya
Langkah terakhir adalah menyusun RAB atau Rencana Anggaran BIaya secara rinci dan terstruktur.
RAB mencakup semua kebutuhan material, upah tukang, biaya struktur tambahan, perizinan, serta dana cadangan.
Penyusunan RAB ini sebaiknya dilakukan bersama kontraktor atau arsitek agar sesuai dengan standar dan tidak ada komponen yang terlewat.
Dengan RAB yang jelas, Anda bisa mengontrol pengeluaran secara efektif dan memantau progres pembangunan sesuai jadwal.

Kisaran Biaya Tingkat Rumah sesuai Tipe Hunian
Untuk memulai renovasi Anda harus mengetahui luas rumah, tapi bagaimana jika Anda hanya tahu tipe hunian baik itu tipe 36 atau 45?
Jangan khawatir, berikut ini estimasi biaya untuk berbagai tipe hunian yang biasanya tersedia di perumahan masa kini:
1. Estimasi Biaya Renovasi Tipe 36
Rumah tipe 36 umumnya memiliki luas 6×6 meter. Jika ingin menambah satu lantai dengan luas yang sama, maka total area bangunan menjadi 72 m2.
Dengan asumsi renovasi menggunakan material berkualitas menengah dan sistem borongan penuh sekitar Rp3,2 juta per m2, maka total biayanya adalah:
72m2 x Rp3.200.000 = Rp230.400.000
Biaya ini sudah mencakup struktur beton, dinding hebel atau bata ringan, atap baja ringan, finishing standar, serta instalasi listrik dan air.
2. Estimasi Biaya Renovasi Tipe 45
Rumah tipe 45 biasanya memiliki dimensi sekitar 6×7,5 meter. Bila renovasi mencakup penambahan lantai atas dengan luas serupa, total area menjadi 90m2.
Jika dengan sistem borongan Rp3,5 juta per m2, maka total biaya menjadi:
90m2 x Rp3.500.000 = Rp315.000.
Anggaran ini sudah mencakup penguatan pondasi, pengecoran dak, pemasangan tangga, serta interior dasar di lantai atas.

3. Estimasi Biaya Renovasi Tipe 72
Untuk rumah tipe 72 m2, sekitar 8×9 meter, penambahan satu lantai yang luasnya sama menjadikan total 144 m2.
Mengingat ukurannya besar, biaya struktur tambahan juga lebih banyak. Estimasi biaya per meter2 bisa menjadi Rp4 jutaan. Maka total biaya akan menjadi:
144 m2 x Rp4.000.000 = Rp576.000.000
Biaya ini sudah termasuk finishing yang lebih baik, seperti granit, tile, plafon gypsum, hingga instalasi AC.
Dengan memahami cara menghitung biaya renovasi rumah secara akurat, khususnya untuk 2 lantai dapat menghindari risiko anggaran membengkak.
Anda juga bisa memastikan hasil sesuai harapan dan menjaga proses renovasi tetap efisien dari awal hingga selesai.
F.A.Q
Berapa estimasi renovasi rumah 2 lantai?
Estimasi renovasi rumah 2 lantai berkisar antara Rp2,5 juta – Rp5 juta per m², tergantung kompleksitas desain, kondisi bangunan, dan kualitas material.
Berapa rata-rata biaya renovasi rumah?
Rata-rata biaya renovasi rumah berkisar Rp2 juta – Rp4 juta per m² untuk renovasi sedang. Bisa lebih murah atau mahal tergantung skala dan material.
Langkah awal saat mau renovasi rumah?
Langkah awal renovasi rumah adalah menentukan kebutuhan renovasi, membuat anggaran, konsultasi dengan arsitek/kontraktor, lalu menyusun RAB dan jadwal kerja.



